Latest Post

Info Jadwal Kereta Api Banyuwangi

Written By BioskopAdmin on Rabu, 09 Oktober 2013 | 18.27



Jadwal Kereta Api Dari Banyuwangi : 


Sri Tanjung Banyuwangibaru ke Lempuyangan Berangkat : 06.30 Tiba di Lempuyangan : 19.37
Tawang Alun Banyuwangibaru Ke Malang Berangkat : 05.15 Tiba di Malang : 13.05
Mutiara-timur Siang Banyuwangibaru Ke Surabaya Berangkat : 08.30 Tiba di Surabaya : 14.56
Mutiara-timur Malam Banyuwangibaru Ke Surabaya Berangkat : 22.00 Tiba di Surabaya : 04.20
Probowangi Banyuwangibaru Ke Probolinggo Berangkat : 12.40 Tiba di Probolinggo : 18.22
Pandanwangi Banyuwangibaru Ke Jember Berangkat : 09.00 Tiba di Jember : 12.15
Pandanwangi Banyuwangibaru Ke Kalibaru Berangkat : 19.35 Tiba di kalibaru : 21.22 
Jadwal Kereta Api Menuju Banyuwangi : 
Sri Tanjung Lempuyangan ke Banyuwangibaru Berangkat : 07.45 Tiba di Banyuwangibaru : 20.40
Tawang Alun Malang ke Banyuwangibaru Berangkat : 14.45 Tiba di Banyuwangibaru : 22.27
Mutiara-timur Siang Surabaya ke Banyuwangibaru Berangkat : 09.00 Tiba di Banyuwangibaru : 15.36
Mutiara-timur Malam Surabaya ke Banyuwangibaru Berangkat : 22.00 Tiba di Banyuwangibaru : 04.25
Probowangi Probolinggo ke Banyuwangibaru Berangkat : 05.00 Tiba di Banyuwangibaru : 10.38
Pandanwangi Jember ke Banyuwangibaru  Berangkat : 15.30 Tiba di Banyuwangibaru : 18.52
Pandanwangi kalibaru ke Banyuwangibaru Berangkat : 05.00 Tiba di Banyuwangibaru : 07.02
*Update Per 1 April 2013 (Waktu Keberangkatan dan tiba dapat berubah sewaktu-waktu oleh PT.KAI)
Tarif :
Tawang Alun : Rp. 30.000
Sritanjung : Rp. 50.000
Mutiara-Timur : Rp. 80.000 - 150.000
Probowangi : Rp. 18.000
Pandanwangi : Rp. 4000  

Wisata Teluk ijo



Teluk Hijau atau teluk Ijo berada di kecamatan Pesanggaran tepatnya di desa Sarongan. Berjarak sekitar 90 km arah selatan dari kota Banyuwangi. Jarak Teluk Hijau dan Rajekwesi adalah kira-kira 2 km. Pemandangan yang indah dan alami dapat dilihat disepanjang mata memandang.
Teluk Hijau memiliki keunikan pasir putih yang halus dan mudah melekat di kulit. Teluk yang memiliki panorama air laut berwarna hijau dengan hamparan pasir putih dan air terjun setinggi 8 meter. Diujung barat dan timur juga terdapat batuan karang. Memiliki air laut yang jernih dan berwarna kehijauan dan suasana yang asri membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum. Disini kita bisa berenang atau sekedar bermain air dipantainya. Di sisi timur ada sebuah air terjun air tawar dengan debit yang sedang dan biasa dipakai uuntuk membilas badan selepas berenang dipantai. Untuk yang suka camping dilokasi ini juga cukup bagus untuk mendirikan tenda. Udara segar dari pantai yang dipadu dengan udara dari hutan hujan tropis Taman Nasional Meru Betiri sangat mengesankan. Pemandangan dari atas bukit di samping teluk sungguh mengagumkan.

Green Bay

Wisata Pulai Merah


Pulau merah (Red Island) merupakan wisata pantai yang terletak di ujung selatan Banyuwangi, pantai ini sangat alami dan merupakan salah satu lokasi wisata di kawasan pantai selatan yang masih alami. Pantai Pulau Merah juga memiliki ombak yang bagus untuk surfing. Ketika laut surut, para pengunjung dapat mengunjungi tempat ini dengan berjalan kaki sambil menikmati keunikan berupa gunung kecil yang berada di tengah pantai yang tanahnya berwarna merah karena itu dinamakan Pantai Pulau Merah.

pantai


Kelebihan itu, kata dia, antara lain pada ombaknya yang bisa menjadi tujuan peselancar pemula, amatir dan profesional dengan ketingian rata-rata dua meter. Berbeda dengan Pantai Plengkung atau G-Land yang hanya bisa dinikmati oleh peselancar profesional.
Dari segi akses, pantai yang terletak 80 kilometer arah selatan kota Banyuwangi itu, lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dengan kondisi jalan yang mulus. Obyek wisata di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran tersebut juga dekat dengan permukiman warga. “Kalau Plengkung, selain aksesnya sulit juga tidak bisa melibatkan masyarakat,” kata dia yang turut hadir di Kompetisi Surfing Internasional di Pulau Merah, Jumat 24 Mei 2013.
Bentangan alam Pulau Merah dengan  bukit setinggi 200 meter di laut dan pantainya yang putih bersih, kata Jro, mengingatkan dia pada sebuah pantai di Brasil. Oleh karena itu, Jro menyebut Pulau Merah sebagai ‘mutiara’ yang terpendam.
Dia mendorong Pemerintah Banyuwangi untuk lebih gencar mempromosikan Pulau Merah. Selain berselancar, jenis olahraga lain seperti volli pantai dan paralayang bisa dikembangkan untuk semakin menarik wisatawan.

(reuters)


Pulau Merah adalah sebuah pulau berbentuk bukit kecil dekat pantai dengan pantai berpasir putih sepanjang kurang lebih 3 km. Pantai Pulau Merah terletak sekitar 60 kilometer dari Kota Banyuwangi ke arah selatan. Perjalanan yang membutuhkan waktu dua setengah jam.Sebagian kawasan pantai Pulau Merah berada di kaki Gunung Tumpang Pitu yang menjulang ratusan meter dan juga merupakan kawasan hutan lindung.

Wisata Rowo Bayu

Rowo dalam bahasa Indonesia berarti “Rawa” sedangkan Bayu itu sendiri diambil dari nama desa “Bayu”, Rowo Bayu (Rawa di desa Bayu) begitulah penduduk sekitar menyebut kawasan yang dianggap sakral ini. Disekitar Rowo Bayu terdapat Petilasan Prabu Tawang Alun dan Sebuah bangunan candi nampak kokoh berdiri di atas bukit yang mana menurut juru kunci wisata sejarah Rowo Bayu disebut “Candi Puncak Agung Macan Putih” yang didirikan untuk menghormati roh para leluhur yang telah berjasa dalam mempertahankan tanah Blambangan dalam perang Puputan Bayu tahun 1771.
Selanjutnya jika kita menelusuri jalan jalan setapak, maka kita akan menemui bangunan wisata sejarah situs Batu Suci Petilasan Prabu Tawang Alun dimana di sekitar bangunan tersebut terdapat sumber mata yang diyakini sebagai mata air suci diantaranya adalah sumber mata air “Kamulyan”, sumber mata air “Dewi Gangga”, dan sumber mata air “Pancoran Suwelas” yang airnya mengalir menuju telaga utama.
Pada bukit pertama saat kita masuk area Rowo Bayu akan dapat kita temui satu pohon yang amat besar nan eksotis yang merupakan gabungan dari pohon Beringin dan pohon Apak dimana terdapat sebuah rongga mirip goa di tengah nya. Apabila kita masuk dan melihat ke atas, maka gabungan 2 (dua) pohon tersebut menghasilkan rongga tinggi mirip sebuah sumur dengan lilitan akarnya yang ibarat ornamen-ornamen alam. Telaga nan jernih diantara bukit dan hutan yang rimbun penuh pohon besar mengentalkan aroma mistis di kawasan ini. Konon menurut mitos yang berkembang di masyarakat sekitar, pada malam-malam tertentu telaga Bayu dijadikan tempat untuk mandi para bidadari.

Sumber : banyuwanginesia.blogspot.com

Asal Mula Tari Gandrung Banyuwangi


Gandrung Banyuwangi berasal dari kata "gandrung", yang berarti 'tergila-gila' atau 'cinta habis-habisan' dalam bahasa jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa Barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan joged bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik(gamelan).

Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Sejarah

Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.

Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaan Blambangan) yang tampak.

Bagian Tubuh

Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.

Bagian Kepala

Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.

Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.

Bagian Bawah

Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.

Lain-lain

Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.

Musik Pengiring

Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.

Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.


Tahapan-Tahapan Pertunjukan

Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian:

* jejer
* maju atau ngibing
* seblang subuh

Jejer
Jejer ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Maju
Sehabis jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mend`pat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.

Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang subuh
Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.

Perkembangan terakhir
Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.

Download Lagu Demy Wedhus



Lirik Lagu :

Bangur tuku sate timbang tuku weduse
Bangur gendakan timbang dadi rabine
Mangan sate yo sing mikir mburine
Angon wedus mageh mikir sukete

Bangur tuku sate tmbang tuku weduse
Bangur gendakan timbang dadi rabine
Mangan sate oh sing mikir mburine
Angon wedus oh make mikir sukete

Reff:
Timbang di rabi akeh penjaluke
Bangur sun enggo gendakan baen
O sing katik mikir bendinane
Seminggu cukup sepisan baen

Mergane isun yo sing kuat
Duwe wong wadon turunan ningrat
Isun iki wong lanang melarat
Buruh macul modal dengkul bondho nekat



Link Download : Klik disini
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. l Love banyuwangi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger